Kabupaten Pasaman, yang dibelah oleh garis khatulistiwa dan didominasi oleh perbukitan terjal bagian dari Bukit Barisan, memiliki tantangan geografis yang tidak main-main. Namun, bagi para atlet mahasiswa di wilayah ini, kondisi alam tersebut bukanlah sebuah kutukan, melainkan fasilitas pelatihan alami yang tidak ternilai harganya. Mereka secara rutin menerapkan metode latihan di ketinggian ekstrem untuk menempa ketahanan kardiovaskular mereka. Hasilnya, para atlet asal Pasaman dikenal di tingkat nasional sebagai pelari dan petarung yang memiliki daya tahan paru-paru luar biasa, atau yang sering dijuluki oleh para pelatih sebagai pemilik napas ‘dua tangki’.
Secara ilmiah, manfaat dari latihan di ketinggian ekstrem berkaitan dengan adaptasi tubuh terhadap kondisi hipoksia atau rendahnya kadar oksigen. Di wilayah perbukitan Pasaman yang tinggi, tekanan parsial oksigen jauh lebih rendah dibandingkan dengan daerah pesisir seperti Padang atau Pariaman. Saat mahasiswa berlatih dalam kondisi ini, tubuh mereka dipaksa untuk bekerja lebih keras guna mencukupi kebutuhan oksigen ke seluruh jaringan otot. Sebagai respons, sumsum tulang belakang akan memproduksi lebih banyak sel darah merah (eritrosit) dan hemoglobin. Ketika para atlet ini turun ke daerah dataran rendah untuk berkompetisi, mereka membawa cadangan oksigen yang jauh lebih melimpah di dalam darahnya, sehingga mereka tidak mudah merasa lelah meskipun intensitas pertandingan sangat tinggi.
Program latihan di ketinggian ekstrem ini dilakukan melalui jalur-jalur pendakian yang memiliki kemiringan tajam. Mahasiswa atlet di Pasaman tidak hanya sekadar berlari, tetapi melakukan latihan interval di medan yang tidak rata. Hal ini memberikan beban tambahan pada otot-otot tungkai dan keseimbangan tubuh. Kekuatan kaki yang terbentuk di jalur pegunungan ini sangat berbeda dengan kekuatan yang didapat dari mesin treadmill di pusat kebugaran. Otot mereka menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi. Inilah mengapa dalam setiap kejuaraan atletik, mahasiswa Pasaman sering kali melakukan sprint atau percepatan di putaran terakhir saat atlet dari daerah lain sudah mulai kehabisan napas.
Namun, metode ini menuntut kedisiplinan dan pengawasan medis yang ketat. Berlatih di tempat tinggi berisiko menyebabkan dehidrasi lebih cepat dan kelelahan saraf jika tidak dibarengi dengan pola istirahat yang benar. BAPOMI Pasaman bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memastikan bahwa setiap sesi latihan di ketinggian ekstrem berjalan sesuai dengan kapasitas fisik masing-masing mahasiswa.