Pembangunan fasilitas olahraga publik kini semakin mengedepankan asas keadilan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Seiring dengan pelaksanaan pemindaian postural deteksi dini skoliosis, penerapan prinsip Universal Design pada renovasi lapangan utama Pasaman menjadi wujud nyata pemenuhan hak berolahraga. Konsep ini menjamin kemudahan akses bagi atlet disabilitas, lansia, dan anak-anak.
Penerapan standar Universal Design terlihat dari ketersediaan bidang miring (ramp) bersudut landai, jalur pemandu difabel (guiding block), hingga pintu masuk yang lebar. Toilet umum dan ruang ganti atlet dirancang khusus agar dapat digunakan oleh pengguna kursi roda tanpa hambatan. Papan informasi arena juga dilengkapi huruf Braille dan audio.
Pemanfaatan prinsip Universal Design pada infrastruktur olahraga terbukti memicu peningkatan partisipasi masyarakat dalam beraktivitas fisik harian. Lapangan tidak lagi terasa eksklusif hanya untuk kelompok tertentu, melainkan menjadi ruang publik yang inklusif dan hangat. Rasa kebersamaan antar warga tumbuh alami.
Pencahayaan lapangan dan permukaan lantai non-slip dipasang untuk menjamin keselamatan tingkat tinggi bagi siapa saja yang beraktivitas di malam hari. Penataan tribun penonton juga menyediakan area khusus pengguna kursi roda dengan sudut pandang pertandingan yang nyaman.
Inovasi pembangunan berbasis Universal Design ini menjadikan arena olahraga lokal sebagai contoh percontohan infrastruktur ramah disabilitas di tingkat daerah. Pengelolaan fasilitas yang inklusif menaikkan taraf kesetaraan sosial secara nyata.
Ketersediaan sarana yang ramah bagi semua orang ini diharapkan dapat memicu lahirnya atlet-atlet disabilitas berprestasi dari daerah. Olahraga benar-benar hadir sebagai pemersatu yang merangkul seluruh keberagaman masyarakat.