Di era digital yang semakin terbuka, batasan antara ruang privat dan ruang publik bagi seorang olahragawan kini nyaris hilang. Fenomena ini juga dirasakan oleh para atlet mahasiswa di bawah naungan Bapomi Pasaman. Seiring dengan meningkatnya prestasi dan popularitas mereka di media sosial, tantangan baru pun muncul: bagaimana cara atlet hadapi berbagai komentar negatif dari warga net. Kritik yang datang seringkali tidak hanya bersifat membangun, tetapi juga bisa berupa hujatan atau opini destruktif yang dapat mengguncang mentalitas seorang atlet muda di tengah masa studinya.
Media sosial adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah sarana untuk mendapatkan dukungan luas, namun di sisi lain, ia bisa menjadi sumber tekanan psikologis yang berat. Bapomi Pasaman menyadari bahwa ketangguhan fisik di lapangan harus dibarengi dengan ketangguhan mental di dunia maya. Bagi seorang mahasiswa yang baru memulai karier atletiknya, membaca komentar pedas setelah mengalami kekalahan bisa terasa sangat menyakitkan. Jika tidak dikelola dengan bijak, hal ini dapat mengganggu konsentrasi latihan bahkan memengaruhi kesehatan mental mereka secara keseluruhan.
Memilah Kritik yang Membangun dan Destruktif
Langkah pertama dalam menghadapi fenomena ini adalah edukasi mengenai literasi digital. Para atlet di Pasaman diajarkan untuk memiliki “filter” mental terhadap informasi yang mereka terima. Tidak semua pendapat netizen memiliki nilai validitas yang sama. Kritik yang bersifat teknis dari orang yang kompeten mungkin perlu didengarkan, namun komentar yang bersifat menyerang pribadi harus segera diabaikan. Bapomi Pasaman menekankan bahwa harga diri seorang atlet tidak ditentukan oleh jumlah “like” atau komentar di unggahan mereka, melainkan oleh dedikasi dan kerja keras yang mereka tunjukkan di arena pertandingan.
Selain itu, para atlet disarankan untuk tidak terlalu sering memantau kolom komentar, terutama setelah pertandingan besar. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di mata publik adalah beban tambahan yang tidak perlu dipikul. Dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, atlet dapat tetap fokus pada proses pemulihan dan evaluasi bersama pelatih. Strategi ini membantu menjaga stabilitas emosional agar mereka tidak terjebak dalam pusaran opini publik yang seringkali berubah-ubah dengan sangat cepat.
Mengubah Energi Negatif Menjadi Motivasi
Salah satu kemampuan yang coba diasah di lingkungan olahraga Pasaman adalah mengubah kritik pedas netizen menjadi bahan bakar untuk membuktikan kemampuan. Alih-alih merasa terpuruk, atlet didorong untuk membuktikan bahwa pendapat negatif tersebut salah melalui prestasi di lapangan. Mentalitas “berbicara melalui karya” adalah kunci utama. Namun, hal ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menjadi beban obsesif. Pelatih di Bapomi berperan besar sebagai mentor yang membantu atlet menetralisir perasaan negatif dan mengembalikan fokus pada tujuan jangka panjang mereka.