Catur sering kali dianggap sebagai olahraga yang mengandalkan ketenangan dan strategi pikiran yang mendalam. Namun, di balik setiap langkah bidak di atas papan, terdapat aturan ketat yang harus ditegakkan untuk menjaga sportivitas dan integritas Dukung Kompetisi Universitas. Di Pasaman, sebuah inisiatif progresif telah dilakukan melalui program pelatihan wasit catur berlisensi bagi para mahasiswa. Langkah ini diambil guna menjawab kebutuhan akan perangkat pertandingan yang kompeten, khususnya untuk mendukung penyelenggaraan kompetisi catur antar-universitas yang semakin sering diadakan.
Menjadi seorang wasit catur profesional jauh dari sekadar memahami langkah kuda atau menteri. Seorang wasit dituntut untuk menguasai hukum catur internasional secara mendalam, termasuk aturan mengenai touch-move (sentuh-jalan), manajemen waktu pada jam catur digital, serta bagaimana menangani situasi perselisihan yang sering terjadi di tengah pertandingan yang sengit. Dalam pelatihan di Pasaman ini, para mahasiswa dibekali dengan modul pembelajaran yang mencakup teknik supervisi pertandingan, prosedur pelaporan, hingga cara menjaga ketertiban suasana di dalam ruang pertandingan yang harus selalu kondusif.
Salah satu aspek yang paling krusial dalam pelatihan ini adalah kemampuan adaptasi terhadap teknologi. Saat ini, banyak turnamen catur yang menggunakan sistem digital untuk mencatat notasi langkah dan waktu. Wasit tidak hanya harus bisa mengoperasikan perangkat tersebut, tetapi juga mampu melakukan troubleshooting jika terjadi kegagalan teknis saat pertandingan berlangsung. Mahasiswa dilatih untuk tetap tenang dalam menangani kendala teknis agar durasi pertandingan tidak terganggu. Kemampuan teknis ini menjadi nilai tambah yang sangat dicari oleh penyelenggara turnamen di berbagai level.
Selain aspek teknis, etika seorang wasit catur merupakan fondasi utama. Wasit adalah representasi dari keadilan di papan catur. Mereka harus menunjukkan sikap netral yang absolut, tidak memihak, dan sangat fokus dalam mengamati gerak-gerik pemain untuk menghindari segala bentuk kecurangan, seperti penggunaan perangkat elektronik ilegal atau gangguan dari penonton. Pelatihan ini secara khusus mengadakan sesi diskusi mengenai integritas, di mana peserta diajarkan bagaimana bersikap tegas dalam mengambil keputusan diskualifikasi atau memberikan penalti waktu sesuai dengan aturan yang berlaku.