Kehilangan anggota tubuh sering kali dianggap sebagai akhir dari karier seorang olahragawan. Namun, di Kabupaten Pasaman, pandangan pesimis tersebut mulai terkikis berkat inisiatif progresif yang dijalankan oleh Bapomi Pasaman. Melalui kampanye bertajuk “Lari Lagi!”, organisasi ini melakukan sebuah gerakan kemanusiaan sekaligus prestasi yang sangat menyentuh. Fokus utamanya adalah memberikan kesempatan kedua bagi para mantan atlet atau pemuda berbakat yang kehilangan Kaki Palsu mereka akibat kecelakaan atau kondisi medis tertentu untuk kembali ke lintasan atletik dengan bantuan teknologi modern.
Langkah nyata yang dilakukan adalah melakukan pengadaan perangkat prostetik yang dirancang khusus untuk aktivitas tinggi. Perlu dipahami bahwa alat bantu jalan biasa sangat berbeda dengan perangkat yang digunakan untuk berolahraga. Bapomi bekerja sama dengan ahli ortotik prostetik untuk menyediakan kaki palsu yang memiliki karakteristik pegas (blade) agar dapat meredam benturan dan memberikan dorongan saat berlari. Fasilitas ini biasanya memiliki harga yang sangat mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat daerah, namun Bapomi Pasaman hadir untuk menjembatani kesenjangan ekonomi tersebut demi masa depan para atlet.
Program ini menyasar para atlet yang memiliki semangat juang tinggi namun terhambat oleh keterbatasan fisik dan finansial. Bapomi melihat bahwa banyak talenta di Pasaman yang sebenarnya memiliki kekuatan mental luar biasa, namun mereka membutuhkan alat yang tepat untuk menyalurkan energi tersebut. Dengan bantuan ini, mereka tidak hanya diberikan kemampuan untuk berjalan kembali, tetapi didorong untuk mengejar prestasi di cabang olahraga lari jarak pendek maupun jauh. Inisiatif ini adalah bentuk nyata dari inklusivitas olahraga yang tidak meninggalkan siapapun di belakang.
Proses adaptasi dengan perangkat baru ini tentu tidak mudah. Oleh karena itu, Bapomi Pasaman juga menyediakan sesi pelatihan khusus dan pendampingan fisioterapi. Para penerima manfaat diajarkan cara menjaga keseimbangan dan mengoptimalkan penggunaan alat baru mereka di lapangan. Fokus utamanya adalah membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hilang. Saat mereka kembali menginjakkan kaki di lintasan lari, ada semangat khusus yang terpancar, sebuah bukti bahwa tekad manusia jauh lebih kuat daripada keterbatasan fisik yang ada.