Kabupaten Pasaman di Sumatera Barat pada tahun 2026 telah mencuri perhatian dunia psikologi olahraga melalui keberhasilan para atlet mahasiswanya yang dikenal memiliki “mental baja”. Di saat atlet dari daerah lain sering kali mengalami kegugupan (choking) saat menghadapi detik-detik krusial di babak final, kontingen Pasaman justru menunjukkan ketenangan yang hampir tidak manusiawi. Rahasia di balik fenomena ini adalah penerapan filosofi Stoikisme yang telah diintegrasikan secara mendalam ke dalam kurikulum pelatihan atlet oleh Bapomi Pasaman. Para atlet mahasiswa ini dididik untuk menguasai pikiran mereka sendiri sebelum mereka mencoba menguasai lawan di lapangan.
Penerapan Stoikisme di Pasaman pada tahun 2026 dimulai dengan pemahaman konsep “Dikotomi Kendali”. Mahasiswa atlet diajarkan untuk memisahkan hal-hal yang berada di bawah kendali mereka—seperti usaha, latihan, dan reaksi mental—dari hal-hal yang berada di luar kendali mereka, seperti keputusan wasit, sorakan penonton lawan, hingga hasil akhir pertandingan itu sendiri. Dengan fokus hanya pada apa yang bisa dikendalikan, atlet Pasaman tidak membuang energi mental mereka untuk mencemaskan kekalahan. Mereka memasuki lapangan dengan keyakinan bahwa selama mereka telah memberikan usaha maksimal, hasil apa pun tidak akan mampu menggoyahkan harga diri atau kedamaian batin mereka.
Latihan mental Stoikisme ini dilakukan setiap pagi melalui sesi yang disebut “Premeditatio Malorum” atau visualisasi hambatan. Di tahun 2026, sebelum berangkat bertanding, atlet mahasiswa Pasaman dilatih untuk membayangkan skenario terburuk: bagaimana jika mereka tertinggal poin di menit terakhir, bagaimana jika cedera terjadi, atau bagaimana jika wasit bertindak tidak adil. Dengan membayangkan hal-hal pahit tersebut sebelumnya, otak mereka tidak lagi terkejut atau panik saat masalah benar-benar muncul di lapangan. Mereka tetap tenang dan mampu berpikir taktis di saat lawan mereka sedang bergelut dengan rasa frustrasi dan kepanikan yang luar biasa.
Bapomi Pasaman di tahun 2026 juga mengajarkan teknik “Amor Fati” atau mencintai takdir. Para atlet mahasiswa dididik untuk melihat setiap tantangan, bahkan kekalahan sekalipun, sebagai bahan bakar untuk pertumbuhan karakter.