Menjalankan program latihan di tengah kewajiban ibadah puasa merupakan sebuah seni manajemen fisik yang harus dikuasai oleh setiap praktisi olahraga. Bagi para atlet yang bernaung di bawah BAPOMI Pasaman, tantangan geografis dan suhu udara menuntut strategi yang lebih cerdas agar massa otot tetap Jaga Otot sementara risiko kekurangan cairan dapat diminimalisir. Tujuan utama dari fase ini adalah efisiensi; bagaimana seorang olahragawan tetap kompetitif tanpa harus mengorbankan integritas seluler tubuhnya akibat kekurangan nutrisi dan air dalam durasi yang cukup panjang.
Langkah pertama dalam strategi jaga otot adalah dengan memperhatikan asupan protein pada jendela makan yang tersedia. Selama berpuasa, tubuh memiliki kecenderungan untuk masuk ke fase katabolik jika tidak mendapatkan asupan asam amino yang stabil. Seorang atlet harus memastikan bahwa saat berbuka dan sahur, mereka mengonsumsi protein dengan profil lengkap. Protein ini berfungsi sebagai pelindung jaringan agar tidak dipecah menjadi energi cadangan. Tanpa perencanaan protein yang matang, latihan beban yang dilakukan justru akan merusak otot tanpa ada proses perbaikan yang memadai, yang pada akhirnya akan menurunkan performa secara keseluruhan di lapangan.
Namun, fokus pada otot tidak boleh membuat kita melupakan aspek hidrasi. Kondisi tanpa dehidrasi hanya bisa dicapai dengan pola minum yang terjadwal secara ketat antara waktu Magrib hingga Imsak. Kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah meminum air dalam jumlah sangat banyak hanya pada satu waktu. Padahal, tubuh manusia memiliki limitasi dalam menyerap cairan per jamnya. Bagi masyarakat di wilayah Pasaman, disarankan untuk menggunakan metode hidrasi bertahap; segelas air setiap satu jam sekali selama waktu tidak berpuasa. Hal ini memastikan bahwa plasma darah tetap encer dan volume cairan di dalam sel tetap optimal untuk mendukung fungsi organ.
Selain air putih, konsumsi elektrolit alami seperti kalium dan natrium sangat membantu mengikat cairan di dalam jaringan. Sayuran hijau dan buah-buahan yang kaya air harus menjadi menu wajib saat sahur. Mengurangi konsumsi kafein juga menjadi faktor penentu, karena kafein bersifat diuretik yang dapat mempercepat pengeluaran cairan dari tubuh melalui urine. Jika seorang olahragawan kehilangan terlalu banyak cairan, koordinasi motorik mereka akan menurun, risiko kram meningkat, dan fokus mental akan memudar. Inilah mengapa keseimbangan antara makronutrisi dan manajemen cairan adalah kunci mutlak keberhasilan atlet selama bulan puasa.