Dalam dunia olahraga kompetitif, godaan untuk meraih kemenangan dengan cara instan sering kali menjadi bayang-bayang hitam yang merusak integritas. Salah satu ancaman terbesar yang kini mulai masuk ke ranah olahraga mahasiswa adalah penggunaan zat terlarang atau doping. Menanggapi situasi yang dianggap sebagai kondisi Darurat Doping, BAPOMI Pasaman mengambil langkah proaktif untuk membentengi para atletnya. Mereka menyadari bahwa tanpa pengawasan yang ketat dan edukasi yang mendalam, prestasi yang diraih oleh mahasiswa akan menjadi semu dan justru menghancurkan masa depan mereka sendiri.
Program perlindungan atlet ini dimulai dengan kampanye literasi mengenai bahaya zat kimia bagi kesehatan jangka panjang. BAPOMI Pasaman tidak hanya bicara soal sanksi diskualifikasi, tetapi lebih menekankan pada kerusakan organ tubuh dan gangguan mental yang bisa diakibatkan oleh penggunaan suplemen ilegal. Banyak mahasiswa yang terjebak menggunakan zat tertentu hanya karena ketidaktahuan atau terbujuk oleh iklan yang menjanjikan peningkatan performa tanpa latihan keras. Oleh karena itu, BAPOMI menghadirkan ahli farmasi dan dokter olahraga ke kampus-kampus untuk memberikan pemahaman mengenai daftar zat yang dilarang sesuai standar internasional.
Selain edukasi, penegakan nilai sportivitas menjadi fondasi utama dalam setiap kompetisi yang diselenggarakan di bawah naungan BAPOMI. Mereka menanamkan filosofi bahwa lebih baik kalah dengan cara yang jujur daripada menang dengan cara menipu. Di setiap sesi latihan, para pelatih diinstruksikan untuk terus memantau perkembangan fisik atlet secara alami. Pengawasan ini dilakukan untuk mendeteksi perubahan fisik atau perilaku yang tidak wajar pada atlet, yang bisa menjadi indikasi awal penggunaan doping. Langkah preventif ini sangat krusial untuk menjaga ekosistem olahraga kampus tetap bersih dan sehat.
BAPOMI juga menerapkan sistem pemeriksaan kesehatan rutin bagi para atlet unggulan. Meskipun tes laboratorium memerlukan biaya yang tidak sedikit, pihak organisasi berupaya menjalin kerja sama dengan laboratorium kesehatan daerah untuk melakukan skrining berkala. Hal ini dilakukan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai bentuk perlindungan bagi para atlet agar mereka tetap berada di jalur yang benar. Integritas kampus sebagai lembaga pendidikan harus tecermin dalam perilaku para atletnya saat berlaga di arena olahraga, baik di tingkat daerah maupun nasional.